GENEVA.

Ternyata kalimat pepatah yang bunyinya jangan terlalu benci nanti lama-lama jadi jatuh cinta ada benarnya juga loh. Soalnya waktu pertama kali saya menginjakkan kaki di kota Jenewa sekitar lima tahun yang lalu, saya sama sekali tidak tertarik dengan kota ini. Entah apa alasannya, tapi pada saat itu saya merasa tidak ada sesuatu yang menarik di kota ini. Makanya saya jadi ilfeel, dan setiap kali si Monsieur mengajak ke sana lagi, saya selalu menolak. Pokoknya aku benci lah sama si Jenewa ini.

Tapiiii perasaan ketidaksukaan saya itu berubah setelah terpaksa kami harus kembali ke Jenewa. Jadi beberapa bulan yang lalu [sebelum wabah Covid 19 melanda], si Monsieur ada janji sama dokter spesialis di Jenewa. Mungkin waktu itu saya lagi bosan banget, jadilah saya iseng ikutan si Monsieur ke dokter. Secara cuma 1,5 jam perjalanan dari rumah ya udahlah yaa.

Pas sampai di Jenewa, karena parkiran di dekat dokter penuh, jadilah kami parkir di mall yang mengharuskan kami berjalan kaki dengan jarak yang cukup lumayanlah. Selama perjalanan menuju ke dokter, tanpa sengaja kami melewati bagian-bagian dari kota Jenewa yang belum pernah kami lewati sebelumnya. Dan ternyata banyak sekali sudut-sudut cantik di kota ini yang layak untuk dieksplorasi.

Jadilah setelah urusan selesai kami pun langsung jalan-jalan mengeksplorasi Jenewa. Dan semakin jauh kami menelusuri sudut kota, perasaan antipati saya yang dulu ada kini menjadi sirna [weshhhh bahasa gue gaya bener deh ah wakakak]. Saya pun sekarang kalau diajak ke sana lagi yaa mau sekaleee. Geneva, aku padamu deh sekarang judulnya. Ciaoooo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s